Jumat, 13 November 2015

mastery learning



BAB I
PENDAHULUAN


1.1              Latar Belakang Masalah

Salah satu di antara masalah besar dalam bidang pendidikan di Indonesia yang banyak diperbincangkan adalah rendahnya mutu pendidikan yang tercermin dari rendahnya rata-rata prestasi belajar. Masalah lain adalah bahwa pendekatan dalam pembelajaran masih terlalu didominasi peran guru (teacher centered). Guru lebih banyak menempatkan peserta didik sebagai objek dan bukan sebagai subjek didik. Pendidikan kita kurang memberikan kesempatan kepada peserta didik dalam berbagai mata pelajaran, untuk mengembangkan kemampuan berpikir holistik (menyeluruh), kreatif, objektif, dan logis, belum memanfaatkan quantum learning sebagai salah satu paradigma menarik dalam pembelajaran, serta kurang memperhatikan ketuntasan belajar secara individual.
Demikian juga proses pendidikan dalam sistem persekolahan kita, umumnya belum menerapkan pembelajaran sampai peserta didik menguasai materi pembelajaran secara tuntas. Akibatnya, banyak peserta didik yang tidak menguasai materi pembelajaran meskipun sudah dinyatakan tamat dari sekolah.

1.2        Rumusan Masalah
·         Apa pengertian model pembelajaran Mastery Learning?
·         Apa saja variabel-variabel model pembelajaran Mastery Learning?
·         Apa saja ciri-ciri model pembelajaran Mastery Learning?
·         Bagaimana prinsip-prinsip pembelajaran Mastery Learning?
·         Bagaimana strategi pembelajaran Mastery Learning?

1.3        Tujuan
·         Untuk mengetahui penegertian pembelajaran Mastery Learning
·         Untuk mengetahui variabel-model pembelajaran Mastery Leraning
·         Untuk mengetahui ciri model pembelajaran Masery Learning
·         Untuk memahami prinsip model pembelajaran Mastery Learning
·         Untuk memahami strategi pembelajaran Mastery Learning.
BAB II
PEMBAHASAN


2.1  Sejarah model pembelajaran mastery learning

                  Belajar tuntas [mastery learning] (Bloom, 1968 dalam Block, 1971:3) menawarkan satu pendekatan baru yang sangat baik terhadap pembelajaran siswa yang dapat memberikan pengalaman belajar yang berhasil dan memuaskan kepada hampir semua siswa, yang sekarang hanya dialami oleh sedikit siswa saja. Pendekatan tersebut menjanjikan bahwa semua atau hampir semua siswa dapat menguasai seluruh materi yang diajarkan kepadanya. Pendekatan itu juga membuat pembelajaran siswa lebih efisien daripada pendekatan-pendekatan konvensional. Siswa akan belajar materi dalam waktu yang lebih singkat. Pada akhirnya, belajar tuntas akan menghasilkan minat yang lebih besar serta sikap yang lebih baik dari siswa terhadap mata pelajaran yang dipelajarinya daripada metode-metode pengajaran yang biasa.
                  Selama tiga tahun sejak publikasi gagasan-gagasan Bloom itu, penelitian yang ekstensif tentang belajar tuntas telah dilaksanakan, baik di Amerika Serikat maupun di berbagai negara lain. Strategi ini telah berhasil diimplementasikan secara mudah dan murah di semua jenjang pendidikan dan dalam berbagai mata pelajaran berkisar dari aritmatika ke filsafat sampai pada fisika. Pendekatan-pendekatan belajar tuntas telah dipergunakan untuk sampel hingga 32.000 siswa dan telah terbukti dapat berjalan baik di kelas dengan seorang guru yang mengajar 20 orang siswa ataupun 2 di kelas-kelas dengan seorang guru yang mengajar 70 orang siswa.
                  Meskipun strategi yang efektif untuk belajar tuntas baru dikembangkan pada tahun 1960-an, tetapi gagasan belajar untuk ketuntasan materi secara optimal sudah dikenal lama. Pada tahun 1920-an terdapat sekurang-kurangnya dua upaya utama untuk menghasilkan ketuntasan dalam kegiatan belajar siswa. Satu di antaranya adalah the Winnetka Plan dari Carleton Washburne dan sejawatnya(1922), dan yang lainnya adalah satu pendekatan yang dikembangkan oleh profesor Henry C. Morrison (1926) di sekolah laboraturium pada the University of Chicago.



2.2  Pengertian Pembelajaran Tuntas

Belajar tuntas (Mastery Learning) adalah pendekatan pembelajaran berdasar pandangan filosofis bahwa seluruh peserta didik dapat belajar jika mereka mendapat dukungan kondisi yang tepat. Konsep belajar tuntas adalah proses belajar yang bertujuan agar bahan ajaran dikuasai secara tuntas, artinya cara menguasai materi secara penuh. Belajar tuntas ini merupakan strategi pembelajaran yang diindividualisasikan dengan menggunakan pendekatan kelompok. Dengan sistem belajar tuntas diharapkan proses belajar mengajar dapat dilaksanakan agar tujuan instruksional yang akan dicapai dapat diperoleh secara optimal sehingga proses belajar lebih efektif dan efisien.

Tolok ukur yang digunakan pada pencapaian hasil belajar dengan pendekatan tersebut adalah tingkat kemampuan siswa per individu, bukan per kelas.Dengan demikian,siswa yang memiliki tingkat kecerdasan atau penguasaan pengetahuan dan keterampilan diatas rata-rata kelas, siswa yang bersangkutan berhak memperoleh pengayaan materi atau melanjutkan ke unit kompetensi selanjutnya, sebaliknya apabila siswa tersebut belum mampu mencapai standar kompetensi yang diharapkan maka siswa tersebut harus mengikuti program perbaikan (remedial) materi.Dalam pelaksanaannya peserta didik memulai belajar dari topik yang sama dan pada waktu yang sama pula. Perlakuan awal belajar terhadap siswa juga sama. Siswa yang tidak dapat menguasai seluruh materi pada topik yang dipelajarinya mendapat pelajaran tambahan sehingga mencapai hasil yang sama dengan kelompoknya. Siswa yang telah tuntas mendapat pengayaan sehingga mereka pun memulai mempelajari topik baru bersama-sama dengan kelompoknya dalam kelas.Pendekatan dalam proses belajar-mengajar adalah menyertai siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru dalam rangka membantu memahami, melaksanakan dan menyimpulkan dari materi yang diberikan guru sehingga siswa merasa terbimbing, terarah sesuai tujuan pembelajaran yang dikehendaki dalam suasana yang bebas dari ketertekanan dan menyenangkan.
Teknik pendekatan yang dipilih adalah salah satu cara guru melakukan inovasi dan terobosan dalam pelaksanaan proses pembelajaran.Kegiatan pendekatan terhadap siswa dalam penelitian tindakan kelas ini diwujudkan dalam partisipasi siswa dan guru dalam menghadapi tugas-tugas siswa.Partisipasi dimaksudkan sebagai keterlibatan mental dan emosi serta fisik anggota dalam memberikan inisiatif terhadap kegiatan yang dilancarkan oleh organisasi serta mendukung pencapaian tujuan dan bertanggung jawab atas keterlibatannya.Pendekatan belajar tuntas (mastery learning) dapat dilaksanakan dan mempunyai efek meningkatkan motivasi belajar intrinsik.Pendekatan ini mengakui dan mengakomodasi semua siswa yang mempunyai berbagai tingkat kemampuan,minat,dan bakat tadi asal diberikan kondisi-kondisi belajar yang sesuai.
2.3   Variabel-variabel Belajar Tuntas
  1. Bakat siswa (aptitude) : Hasil penelitian menunjukan bahwa ada korelasi yang cukup tinggi antara bakat dengan hasil pelajaran
  2. Ketekunan belajar (perseverance) : Ketekunan erat kaitannya dengan dorongan yang timbul dalam diri siswa untuk belajar dan mengolah informasi secara efektif dan efisien serta pengembangan minat dan sikap yang diwujudkan dalam setiap langkah instruksional.
  3. Kualitas pembelajaran (quality of instruction) : Kualitas pembelajaran merupakan keadaan yang mendorong siswa untuk aktif belkajar belajar dan mempertahankan kondisinya agar tetap dalam keadaan siap menerima pelajaran.Kualitas pembelajaran ditentukan oleh kualitas penyajian, penjelasan, dan pengaturan unsure-unsur tugas belajar
  4. Kesempatan waktu yang tersedia (time allowed for learning) : Penyediaan waktu yang cukup untuk belajar dalam rangka mencapai tujuan instruksional yang ditetapkan dalam suatu mata pelajaran, bidang studi atu pokok bahasan yang berbeda-beda sesuai dengan bobot bahan pelajaran dan tujuan yang ditetapkan.

2.4  Ciri-ciri Pembelajaran Tuntas

Menurut Ahmadi, Abu, dkk. (2005) ada beberapa ciri belajar tuntas (mastery learning), yaitu :
·         Siswa dapat belajar dengan baik dalam kondisi pengajaran yang tepat sesuai dengan harapan  pengajar.
·         Bakat seorang siswa dalam bidang pengajaran dapat diramalkan,baik tingkatannya maupun waktu yang dibutuhkan untuk mempelajari bahan tersebut. Bakat berfungsi sebagai indeks tingkatan belajar siswa dan sebagai suatu ukuran satuan waktu.
·         Tingkat hasil belajar bergantung pada waktu yang digunakan secara nyata oleh siswa untuk mempelajari sesuatu dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan untuk mempelajarinya.
·         Tingkat belajar sama dengan ketentuan, kesempatan belajar bakat, kualitas pengajaran, dan kemampuan memahami pelajaran.
·         Setiap siswa memperoleh kesempatan belajar yang berdiferensiasi dan kualitas pengajaran yang berdiferensiasi pula.


2.5 Pinsip-Prinsip Mistery Learning

Para pengembang konsep belajar tuntas mendasarkan pengembangan pengajarannya pada prinsip-prinsip sebagai berikut (Sukmadinata, Nana Syaodih, 2005) :
·         Sebagian besar siswa dalam situasi dan kondisi belajar yang normal dapat menguasai sebagian terbesar bahan yang diajarkan. Tugas guru untuk merancang pengajarannya sedemikian rupa sehingga sebagian besar siswa dapat menguasai hampir seluruh bahan ajaran.
·         Guru menyusun strategi pengajaran tuntas mulai dengan merumuskan tujuan-tujuan khusus yang hendak dikuasai oleh siswa.
·         Sesuai dengan tujuan-tujuan khusus tersebut guru merinci bahan ajar menjadi satua-satuan bahan ajaran yang kecil yang medukung pencapaian sekelompok tujuan tersebut.
·         Selain disediakan bahan ajaran untuk kegiatan belajar utama, juga disusun bahan ajaran  untuk kegiatan perbaikan dan pengayaan.Konsep belajar tuntas sangat menekankan pentingnya peranan umpan balik.
·         Penilaian  hasil  belajar  tidak  menggunakan   acuan   norma,   tetapi   menggunakan   acuan patokan.
·         Konsep belajar tuntas juga memperhatikan adanya perbedaan-perbedaan individual. Prinsip ini direalisasikan dengan memberikan keleluasaan waktu, yaitu siswa yang pandai atau cepat belajar bisa maju lebih dahulu pada satuan pelajaran berikutnya, sedang siswa yang lambat dapat menggunakan waktu lebih banyak atau lama sampai menguasai secara tuntas bahan yang diberikan.

2.6 Strategi Belajar Tuntas (Mastery Learning)
Strategi belajar tuntas adalah suatu strategi pengajaran yang di individualisasikan dengan menggunakan pendekatan kelompok.Strategi belajar tuntas dapat dibedakan dari pengajaran non belajar tuntas terutama   dalam hal-hal berikut ini:
·         Pelaksanaan tes secara teratur untuk memperoleh umpan balik terhadap bahan yang  diajarkan sebagai alat untuk mendiagnosa kemajuan.
·         Peserta didik baru dapat melangkah pada pelajaran berikutnya setelah ia benar-benar menguasai bahan pelajaran sebelumny sesuai dengan patokan yang ditetapkan.
·         Pelayanan bimbingan dan penyuluhan terhadap anak didik gagal mencapai taraf penguasaan penuh, melalui pengajaran korektif, yang menurut Morrison merupakan pengajaran kembali, pengajaran tutorial, restrukturasi kegiatan belajar dan pengajaran kembali kebiasaan-kekebiasaan belajar peserta didik, sesuai dengan waktu yang diperlukan masing-masing.
Apabila pembelajaran tuntas dilakukan dalam kondisi yang tepat maka semua peserta didik mampu belajar dengan baik dan memperoleh hasil yang maksimal terhadap seluruh materi yang dipelajari. Agar semua peserta didik memperoleh hasil yang maksimal, pembelajaran tuntas harus dilakukan dengan sistematis. Supaya pembelajaran terstruktur Winkel menyarankan sebagai berikut:
·         Tujuan-tujuan pembelajaran yang harus dicapai ditetapkan secara tegas.Semua tujuan dirangkaikan dan materi pelajaran dibagi-bagi atas unit-unit pelajaran yang diurutkan, sesuai dengan rangkaian semua tujuan pembelajaran.
·         Siswa dituntut supaya mencapai tujuan pembelajaran lebih dahulu, sebelum siswa diperbolehkan mempelajari unit pelajaran yang baru untuk mencapai tujuan pembelajaran. Jadi siswa dilarang untuk mempelajari pokok bahasan berikutnya sebelum siswa tersebut mamahami pokok bahasan sebelumnya.
·         Ditingkatkan motifasi belajar siswa dan efektivitas usaha belajar siswa, dengan memonitor proses belajar siswa melalui testing berkala dan kontinyu, serta memberikan umpan balik kepada siswa mengenai keberhasilan atau kegagalannya pada saat itu juga.
·         Memberikan bantuan atau pertolongan kepada siswa yang masih mengalami kesulitan.

2.7  Perencanaan Belajar Tuntas

Perencanaan merupakan hal yang penting yang harus dilakukan oleh seorang guru sebelum melakukan kegiatan belajar mengajar agar guru mampu mengajar dengan baik dan siswa akan menerima pelajaran dari gurunya dengan baik pula. Perencanaan belajar tuntas disusun dengan langkah-langkah sebagai berikut:[1][11]
1.      Merumuskan tujuan pembelajaran yang harus dicapai, baik yang bersifat umum  maupun khusus.
2.      Mempersiapkan alat evaluasi.
3.      Menjabarkan materi pelajaran menjadi suatu urutan unit-unit pelajaran yang dirangkaikan, yang masing-masing dapat diselesaikan dalam waktu kurang lebih dua minggu.
4.      Mengembangkan prosedur korelasi dan umpan balik bagi setiap unit pelajaran
5.      Menyusun tes diagnosik kemampuan belajar untuk memperoleh informasi bagi guru dan siswa tentang perubahan yang terjadi sebagai hasil pengajaran sebelumnya sesuai dengan unit pelajaran.
6.      Mengembangkan suatu himpunan materi pengajaran alternatif atau learning corrective sebagai alat untuk mengoreksi hasil belajar, yang bersumber pada setiap pokok ujian satuan tes.
7.      Setiap siswa harus menemukan kesulitannya sendiri dalam mempelajari bahan pengajaran.

2.8     Pelaksanaan Belajar Tuntas
Setelah guru melakukan proses perencanaan maka tahap selanjutnya yaitu proses pelaksanaan belajar tuntas.Pelaksanaan belajar tuntas terdiri atas langkah-langkah sebagai berikut:
1.      Kegiatan orientasi. Kegiatan ini mengorientasi siswa terhadap strategi belajar tuntas yang berkenaan dengan orientasi tentang apa yang akan dipelajari oleh siswa dalam jangka satu semester dan cara belajar yang harus dilakukan oleh siswa. Dalam hal ini guru menjelaskan keseluruhan bahan yang telah direncanakan dalam tabel spesifikasi, lalu dilanjutkan dengan prates yang isinya sama dengan isi tes sumatif.
2.      Kegiatan belajar mengajar.Dalam kegiatan belajar mengajar ini yang harus dilakukan oleh seorang guru yaitu:
·         Guru memperkenalkan TIK pada satuan pelajaran yang akan dipelajari dengan cara memperkenalkan tabel spesifikasi tentang arti dan cara mempergunakannya untuk kepentingan bimbingan belajar atau menunjukkan topik umum atau konsep umum yang akan dipelajari.
·         Penyajian rencana kegiatan belajar mengajar beardasarkan standar kelompok.Dengan cara ini para siswa akan  terhindar dari  kebingungan dan menumbuhkan gagasan tentang strategi belajar yang perlu dilakukan sendiri.
·         Penyajian pelajaran dalam situasi kelompok berdasarkan satuan pelajaran.
·         Melaksanakan diagnostic progress test.
·         Mengidentifikasi kemampuan belajar siswa yang telah memuaskan dan yang belum memuaskan.
·         Menetapkan siswa yang hasil belajarnya telah memuaskan.
·         Memberikan kegiatan korektif kepada siswa yang hasil belajarnya“belum memuaskan”.Ada tiga teknik yang dapat dikembangkan yaitu: bantuan tutor teman sekelas,guru mengajarkan kembali bahan yang berhubungan dengan pokok ujian apabila sebagian besar siswa belum memuaskan.Siswa yang bersangkutan memilih sendiri daftar korektif yang telah disediakan  dan melakukannya secara individual.
·         Memonitor keefektifan kegiatan korektif.
·         Menentapkan kembali siswa yang hasil belajarnya memuaskan.
3.      Menentukan tingkat penguasaan bahan.Setelah pelajaran selesai dilakukan maka guru melakukan tes untuk mengetahui sejauh mana kemmapuan siswa.
4.      Memberikan atau melaporkan kembali tingkat penguasaan setiap siswa.Kegiatan ini bertujuan agar mengetahui tingkat penguasaan setiap siswa.Mereka diberi tabel spesifikasi,bahan yang sudah dikuasai diberi tanda M (mastery) sedangkan yang belum diberi tanda NM ( non mastery).
Pengecekan keefektifan keseluruhan program. Keefektifan strategi belajar tuntas ditandai berdasarkan hasil yang dicapai oleh siswa. Untuk itu ada dua cara yang dapat ditempuh oleh guru:
a.       Membandingkan hasil yang dicapai oleh kelas yang menggunakan strategi belajar tuntas dengan kelas yang menggunakan strategi lain.
b.      Terlebih dahulu membuat hipotesis tentang hasil belajar jika menggunakan strategi belajar tuntas lalu dibuktikan berdasarkan hasil belajar kelas senyatanya.Dengan cara demikian maka dapat diketahui keefektifan keseluruhan program yang telah dilaksanakan.

2.9       Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Tuntas

Ø  Kelebihan Pembelajaran Tuntas
Menurut Mariana, Alit Made, (2003:21), menyatakan tiga hal kelebihan pembelajaran tuntas, yaitu:
·         Pembelajaran tuntas lebih efektif daripada pembelajaran yang tidak menganut paham pembelajaran tuntas. Keunggulan pembelajaran tuntas termasuk juga pencapaian siswa dan retensi (daya tahan konsep yang dipelajari) lebih tahan lama.
·         Efisiensi belajar siswa secara keseluruhan lebih tinggi pada pembelajaran tuntas daripada pembelajaran yang tidak menerapkan pembelajaran tuntas. Siswa yang tergolong lambat menguasai standar kompetensi secara tuntas dapat belajar hampir sama dengan siswa yang mempunyai kemampuan lebih tinggi.
·         Sikap yang ditimbulkan akibat siswa mengikuti pembelajaran tuntas positif, dibandingkan dengan pembelajaran yang tidak menganut faham pembelajaran tuntas. Adanya sikap positif dan rasa keingintahuan yang besar terhadap suatu materi subyek yang dipelajarinya.

Ø  Kelemahan Pembelajaran Tuntas
Menurut Mariana, Alit Made, (2003:24) juga menyatakan tentang kelemahan belajar   tuntas diantaranya adalah:
·         Guru-guru yang sudah terlanjur menggunakan teknik lama sulit beradaptasi.
·         Memerlukan berbagai fasilitas, dan dana yang cukup besar. Menuntut para guru untuk lebih menguasai materi lebih luas lagi dari standar yang ditetapkan.
·         Diberlakukannya sistem ujian (UAS dan UAN) yang menuntut penyelenggaraan program bidang studi pada waktu yang telah ditetapkan dan usaha persiapan siswa untuk menempuh ujian. Dalam pelaksanaan konsep belajar tuntas apabila kelas itu belum biasa menggunakan strategi belajar tuntas,maka guru terlebih dahulu memperkenalkan prosedur belajar tuntas kepada siswa dengan maksud memberikan motivasi,menumbuhkan kepercayaan diri, dan memberikan petunjuk awal.

























BAB III
PENUTUP

3.1     Kesimpulan
Belajar tuntas (Mastery Learning) adalah pendekatan pembelajaran berdasar pandangan filosofis bahwa seluruh peserta didik dapat belajar jika mereka mendapat dukungan kondisi yang tepat.Adapun variabel belajar tuntas yaitu bakat siswa (aptitude), ketekunan belajar (perseverance),kualitas pembelajaran(quality of instruction),kesempatan waktu yang tersedia (time allowed for learning),prinsip-prinsip model pembelajaran mastery learning yaitu sebagian besar siswa dalam situasi dan kondisi belajar yang normal dapat menguasai sebagian terbesar bahan yang diajarkan,guru menyusun strategi pengajaran tuntas mulai dengan merumuskan tujuan-tujuan khusus yang hendak dikuasai oleh siswa,sesuai dengan tujuan-tujuan khusus, selain disediakan bahan ajaran untuk kegiatan belajar utama. Perencanaan merupakan hal yang penting yang harus dilakukan oleh seorang guru sebelum melakukan kegiatan belajar mengajar.Setelah guru melakukan proses perencanaan maka tahap selanjutnya yaitu proses pelaksanaan belajar tuntas.

3.2    Saran
Sesuai dari hasil kesimpulan, maka dapat dipertimbangkan beberapa saran untuk melengkapi keberhasilan dalam Implementasi mastery learning (belajar tuntas).
1.      Implementasi dari mastery learning (belajar tuntas) untuk lebih ditingkatkan dan diharapkan dapat digunakan di semua kelas.
2.       Guru diharapkan hendaknya meningkatkan diri secara profesional yang diarahkan dalam merencanakan program pembelajaran,menyajikan program pembelajaran yang berorientasi pada pembelajaran yang efektif dan bermutu.
3.      Bagi sekolah hendaknya menyediakan alat dan bahan yang diperlukan secara lengkap agar implementasi mastery learning (belajar tuntas) dalam pembelajaran berlangsung secara



DAFTAR PUSTAKA

Mukminan, (2004). Pedoman Khusus Pembelajaran Tuntas. Jakarta: Depdiknas.

Ahmadi, Abu. dkk. (2005). Strategi Belajar Mengajar. Bandung: CV. Pustaka Setia



http://bangudin22.blogspot.com/2013/11/pembelajaran-ctl-mastery-learning.html



Tidak ada komentar:

Posting Komentar